BAB IV
TEMUAN,
INTERPRETASI DAN PEMBAHASAN
Dalam bab IV ini akan disajikan: gambaran umum lokasi penelitian; Temuan hasil penelitian; interpretasi hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian
A. Gambaran Umum Madrasah Ibtidaiyah
Al-Misbah Kota Bandung
Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung merupakan pendidikan Islam swasta. Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung dibawah naungan Yayasan Al-Misbah. Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung berdiri tahun 1986. Kurikulum pembelajaran yang digunakan di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung Kurikulum 2013 dan Kurikulum muatan lokal khasnya. Pembelajaran al-Quran dan Hadis merupakan bagian sajian mata pelajaran di Kurikulum 2013. (Wawancara dengan H. Hayati; Kepada Madrasah, 22 Maret 2022).
Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah saat ini berlokasi di Jalan Desa Cipadung Kelurahan Cipadung Kecamatan Cibiru Kota Bandung. Saat ini Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung di pimpin seorang kepala sekolah, yaitu: H. Hayati, S.Ag. Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung memiliki visi dan misi madrasah. (Wawancara dengan H. Hayati; Kepada Madrasah, 22 Maret 2022).
Adapun keadaan real Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota
Bandung sebagai berikut:
1. Visi dan Misi Madrasah Ibtidaiyah AL-Misbah Kota Bandung
a. Visi
Terwujudnya Manusia yang Bertaqwa, berakhlak Mulia, Berilmu, Terampil, dan
Mampu hidu Bermasyarakat.
Untuk memudahkan
pencapaian visi tersebut maka dirumuskan indikator visi sebagai berikut :
1) Peserta didik memiliki kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual;
2)
Peserta didik memiliki perestasi dalam bidang akademik dan non akademik;
3) Peserta didik memilki akhlakul karimah;
4) Peserta didik dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah sesuai harapan masing-masing;
5) Peserta memiliki bekal kemampuan untuk hidup bermasyarakat.
b. Misi Madrasah :
1) Menyiapkan Generasi unggul yang Beriman, Bertaqwa, dan Berakhlak Karimah.
2) Membentuk Siswa yang Aktif, Kreatif, dan Inovatif sesuai dengan perkembangan zaman.
3) Membangun Citra Madrasah yang Islami dan sebagai mitra terpercaya di masyarakat.
4) Meningkatkan ketaatan Peserta didik kepada Allah Swt. dalam mengamalkan ajaran Agama Islam.
5) Melaksanakan kegiatan pembelajaran diri di bidang
keagamaan, olahraga , dan kesenian.
6) Menjalin kerjasama yang harmonis antar warga sekolah,
lembaga lain, dan lingkungan. (Wawancara dengan H. Hayati; Kepada Madrasah, 22 Maret 2022).
2.
Struktur
Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung
Struktur Madrasah
Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung,
yaitu: Kepala sekolah, bagian Kurikulum, Bendahara, dan Tata Usaha.
3.
Keberadaan Pendidik (Guru) Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah
Kota Bandung
Madrasah
Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung saat ini memeliki pendidik (guru) dari kelas
1 sampai dengan kelas 6 berjumlah 15 orang (laki-laki berjumlah 2 dan perempuan
13). Tenaga pendidik (Tendik) berjumlah 1 orang. Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung,
yaitu: Kepala sekolah, bagian Kurikulum, Bendahara, dan Tata Usaha. (Wawancara
dengan Rijal Rifa’i; TU Madrasah, 22 Maret 2022).
4. Keberadaan Peserta didik Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah
Kota
Bandung
Madrasah
Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung saat ini memeliki peserta didik (siswa) dari
kelas 1 sampai dengan kelas 6 berjumlah 325 orang (laki-laki berjumlah 155 dan
perempuan 170). (Wawancara dengan Rijal Rifa’i; TU Madrasah, 22 Maret 2022).
B.
Temuan
Hasil Penelitian
Deskripsi hasil temuan pada penelitian
yang dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung berkaitan dengan
metode takmili membaca
menulis dan menghafal Al-Qur’an meliputi kegiatan
perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, masalah dan solusinya.
1. Perencanaaan
Metode Takmili membaca menulis dan menghafal Al-Qur’an
Pada kegiatan perencanaan metode takmili membaca, menulis dan
menghafal Al- Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah memiliki
dasar dan tujuan. Dasar diterapkannya metode takmili takmili membaca, menulis dan menghafal Al- Qur’an di
Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah yakni sebagaimana
yang dikatakan oleh Informan
satu bahwa yang namanya madrasah tidak lepas dari agama
Islam, yang namanya Islam pasti itu tidak lepas dari Al-Qur’an. Oleh karena itu
kewajiban kita sebagai orang muslim untuk menjaga dan memelihara Al-Qur’an,
walaupun Allah telah menjaminnya.
Hal ini sesuai dengan Firman Allah Swt dalam Qs. Al-Hijr
ayat 9:
إِنَّا نَحۡنُ
نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ
“Sesungguhnya
Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
Sedangkan
tujuan yang diharapkan sebagai hasil kegiatan dari metode takmili hafalan Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah adalah
sebagai berikut:
a)
Siswa yang menyelesaikan belajarnya di Madrasah Ibtidaiyah minimal
dapat menghafal surat-surat pendek dalam Juz
'Amma antara surat An-Naas sampai An-Naba.
b)
Untuk mendorong, membina dan membimbing siswa- siswi (talamidz) Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah untuk suka/mencintai menghafal al-Qur’an
dan mengamalkan sehari-hari.
c)
Untuk mengenalkan anak supaya menghafal Al-Qur’an adalah suatu hal
yang sangat penting. Karena implementasi setelah kita hidup bermasyarakat hafalan ini sangat dibutuhkan
Materi hafalan Al-Qur’an di Madrasah
Ibtidaiyah Al-Misbah sebelumnya Juz 30, tetapi mulai tahun pelajaran 2020/2021
atas kebijakan yayasan dan berdasarkan rapat pengelola madrasah ditingkatkan
yakni selain Juz 30 ditambah dengan surat Al-Baqarah.
Adapun materi dan target hafalan kelas
satu adalah surat An- Naas sampai Al-Maa’uun ditambah surat Al-Baqarah ayat
1-10, kelas dua adalah surat Al-Quraisy sampai surat Al-Qori’ah ditambah Al-
Baqarah ayat 1-20, kelas tiga adalah surat Al-Adiyat sampai At-Tin ditambah
Al-Baqarah ayat 1-30, kelas empat adalah surat Al-Insyirah sampai Al-Fajr
ditambah Al-Baqarah ayat 1-40, kelas lima adalah surat Al-Ghasiyyah sampai
Al-Mutaffifin ditambah Al-Baqarah ayat 1-50, dan kelas 6 surat Al-Infitar
sampai An-Naba ditambah Al- Baqarah ayat 1-60.
Karena materi juz 1 ini masih dalam
tahap uji coba sehingga target materi masih belum tersusun rapi dan para
peserta didik tidak dipaksakan untuk menghafal sesuai target. Sehingga materi
tetap menyesuaikan hafalan per-peserta didik sesuai hafalan yang tercatat di
buku pantauan hafalan Al-Qur’an. Tetapi agar pembelajaran lebih terarah para
guru membuat program target hafalan materi seperti itu.
Berdasarkan hasil rapat tim pengembang
kurikulum yang melibatkan yayasan,
komite, kepala madrasah dan dewan guru. Hafalan Al-Qur’an di Madrasah
Ibtidaiyah Al-Misbah masuk ke dalam kegiatan ekstrakurikuler yang mengacu pada
KMA Nomor 184 Tahun 2019 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum pada Madrasah.
Dimana ruang lingkup keputusan ini meliputi: struktur kurikulum, pengembangan
implementasi kurikulum, muatan lokal,
ekstrakurikuler, pembelajaran pada madrasah berasrama dan penilaian
hasil belajar. Adapun struktur kurikulum Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Tahun
Pelajaran 2020/2021 dapat dilihat pada tabel
berikut:
1.1
Tabel Struktur Kurikulum Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah
|
MATA
PELAJARAN |
ALOKASI WAKTU BELAJAR PER-MINGGU |
|||||||
|
I |
II |
III |
IV |
V |
VI |
|||
|
Kelompok A |
|
|
|
|
||||
|
1. |
Pendidikan Agama
Islam |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
a. |
Al-Qur`an Hadis |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
|
|
b. |
Akidah Akhlak |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
|
|
c. |
Fikih |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
|
|
d. |
Sejarah
Kebudayaan Islam |
- |
- |
2 |
2 |
2 |
2 |
|
2. |
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan |
5 |
5 |
6 |
4 |
4 |
4 |
|
|
3. |
Bahasa Indonesia |
8 |
9 |
10 |
7 |
7 |
7 |
|
|
4. |
Bahasa Arab |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
|
|
5. |
Matematika |
5 |
6 |
6 |
6 |
6 |
6 |
|
|
6. |
Ilmu Pengetahuan
Alam |
- |
- |
- |
3 |
3 |
3 |
|
|
7. |
Ilmu Pengetahuan
Sosial |
- |
- |
- |
3 |
3 |
3 |
|
|
Kelompok B |
|
|
|
|
||||
|
1. |
Seni Budaya dan
Prakarya |
4 |
4 |
4 |
5 |
5 |
5 |
|
|
2. |
Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
|
|
Muatan Lokal |
|
|
|
|
|
|
||
|
1. |
Bahasa Sunda |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
|
|
2. |
Bahasa Inggris |
|
|
|
2 |
2 |
2 |
|
|
Pengembangan
Diri/Ekstrakurikuler |
|
|
|
|
|
|
||
|
1. |
Pramuka |
|
|
|
|
|
|
|
|
2. |
Tahfiz |
|
|
|
|
|
|
|
|
Jumlah Alokasi
Waktu Per Minggu |
36 |
38 |
42 |
46 |
46 |
46 |
||
Pembelajaran Metode Takmili
Membaca,
menulis dan Menghafal Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah
Al-Misbah dijadwalkan setiap hari Jum’at (kelas 1-3) dan Sabtu (kelas 4-6)
dengan alokasi waktu 60 menit. Selain itu kegiatan takmili
juga dilaksakan setiap hari 10 menit sebelum jam
pembelajaran pertama dimulai.
a.
Pelaksanaan
Metode Takmili Membaca, menulis dan Menghafal Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah
Pelaksanaan berdasarkan hasil wawancara
dengan Bapak Saepul Aripin selaku koordinator hafalan Al-Qur’an, secara garis
besarnya ada beberapa langkah yang dilakukan pendidik dengan peserta didik
dalam melaksanakan metode takmili hafalan Al-Qur’an di
antaranya:
1)
Kegiatan pendahuluan.
Pada tahap ini, sebelum memulai takmili
hafalan Al-Qur’an, guru bersama peserta didik membaca
do’a bersama-sama dilanjutkan membaca Al-Asmaul Husna selama 10 menit.
2)
Kegiatan inti.
Pada tahap ini kegiatan dibagi menjadi dua sesi, sesi
pertama mengajarkan tentang tajwid guna memberikan penekanan terhadap cara baca
dan kaidah-kaidah bacaan Al-Qur’an yang benar sesuai dengan ketentuan yang ada
dengan alokasi 20 menit. Pada sesi ke dua baru dilaksanakan pembelajaran takmili hafalan Al-Qur’an dengan alokasi
waktu 40 menit. Pada kegiatan ini peserta didik melakukan takmili hafalan lama secara bersama-sama disimak oleh guru.
Kemudian diteruskan takmili hafalan
baru di bawah bimbingan guru, peserta didik mengucap ulang apa yang dibacakan
guru. Setelah dirasa peserta didik sudah hafal, peserta didik disuruh duduk
berpasangan dan saling menyimak hafalan masing-masing. Bagi yang sudah siap dan
merasa sudah hafal benar, maka dilanjutkan menyetorkan hafalan kepada gurunya
dengan membawa buku pantauan hafalan Al-Qur’an.
3)
Kegiatan penutup.
Pada tahap ini guru bersama peserta didik takmili lagi ayat yang sudah dihafal
hari ini. Bagi peserta didik yang belum menyetorkan hafalannya diberi tugas
untuk menghafal di rumah. Setelah itu guru menutup pembelajaran dengan berdo’a
bersama.
Dikarenakan pembelajaran takmili hafalan Al-Qur’an di Madrasah
Ibtidaiyah Al-Misbah dilaksanakan setelah pembelajaran di madrasah, peserta
didik sudah merasa jenuh. Maka guru berinisiatif untuk menciptakan suasana
pembelajaran yang dapat menghilangkan kejenuhan. Peserta didik melakukan pembelajaran
takmili tidak terpaku di dalam
ruangan kelas saja, tetapi memanfaatkan lingkungan di sekitar madrasah, seperti
teras, halaman, taman dan lainnya, disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat
itu, yang terpenting peserta didik merasa nyaman dan senang dalam mengikuti
kegiatan takmili tersebut.
b. Evaluasi Metode Takmili Membaca,
menulis dan Menghafal Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah
Untuk dapat menilai dan mengukur sampai
dimana keberhasilan yang dicapai dalam pembelajaran metode Metode Takmili
Membaca,
menulis dan Menghafal Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah, maka
diperlukan evaluasi. Evaluasi dalam pembelajaran mencakup evaluasi hasil
belajar dan evaluasi proses pembelajaran
1)
Evaluasi
Hasil Pembelajaran Metode Takmili Membaca, menulis
dan Menghafal Al-Qur’an
Berdasarkan beberapa hasil wawancara
dan observasi dapat diketahui bahwa sistem evaluasi pembelajaran metode Metode Takmili Membaca, menulis dan Menghafal Al-Qur’an yang
dilakukan di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah menggunakan penilaian berbentuk
sistem setoran hafalan. Tetapi waktu pelaksanaannya juga seperti dengan mata
pelajaran lainnya yakni dengan melakukan ulangan setoran harian, juga dengan
melakukan ulangan setoran dalam setiap tengah semester, akhir semesteran dan setoran
akhir kelulusan. Adapun bentuk mekanisme setoran hafalan yang dilakukan untuk
lebih jelasnya meliputi sebagai berikut:
a)
Evaluasi setoran mingguan (evaluasi formatif)
Evaluasi setoran mingguan dilakukan
setiap akhir pada jam pelajaran hafalan Al-Qur’an. Untuk pelaksanaannya
biasanya para guru menyuruh maju peserta didik yang sudah hafal atau bisa juga
dengan memanggil satu persatu dengan membawa buku pantauan hafalan Al-Qur’an. Setelah itu para gurunya memberikan
catatan penilaian di buku pantauan tersebut.
Setiap kali pertemuan dalam pelajaran
hafalan Al-Qur’an peserta didik tidak selalu menyetorkan hafalannya artinya
ketika peserta didik itu sudah mampu untuk menyetorkan hafalannya maka peserta
didik akan menyetorkan hafalannya Jika peserta didik belum mampu untuk
menyetorkan hafalannya, mereka disuruh untuk tadarus atau takmili saja. Maka setoran hafalannya ditunda pada pertemuan
berikutnya. Sebenarnya kemampuan setor hafalan bagi peserta didik tidak
dibatasi tetapi semua itu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Tetapi agar pembelajaran lebih terarah para guru
memberikan target minimal hafal 1 sampai 3 ayat, tergantung dari panjang
pendeknya ayat yang dihafal.
Evaluasi setor mingguan ini merupakan
langkah ini dimaksudkan agar peserta didik selalu rutin dan rajin menghafal
sehingga diharapkan siswa mampu mencapai target yang ditetapkan.
b)
Evaluasi setoran tengah semester dan semesteran
Evaluasi setoran tengah semester
dilakukan setiap tiga bulan sekali, sedangkan evaluasi semesteran dilakukan
setiap enam bulan sekali. Dalam pelaksanaan evaluasi ini dengan cara mengulang
dari hafalan dari ayat yang sudah hafal. Setiap penilaian dalam jangka waktu
tengah semester dan semesteran biasanya ada
target tertentu. Untuk peserta
didik yang belum mencapai target hafalan, maka dilakukan remidi sesuai
prosedur. Ketika ada siswa yang memang sulit sekali menghafal untuk mencapai
target yang diharapkan, para guru
tidak membebankan dan tidak memaksa mereka. Karena supaya anak-anak tidak ada
rasa trauma dan tidak terganggu psikologinya. Jadi target hafalan tersebut
bukan memaksa dan menjadi
syarat kenaikan kelas,
tetapi hanya sebagai himbauan atau anjuran saja,
agar lebih pembelajaran menjadi terarah dengan baik. Dan yang terpenting anak
sudah ada kemauan untuk menghafal, dan nanti kalau sudah melanjutkan ke jenjang MTS atau SMP bisa lebih ditekankan
lagi hafalannya.
c)
Evaluasi akhir kelulusan
Evaluasi akhir kelulusan dilaksanakan
setiap menjelang akhir kelulusan di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah yaitu ujian
akhir yang dibimbing langsung oleh kepala madrasah dan dibantu guru- guru.
Untuk target minimal yang harus dicapai siswa kelas 6 ketika menjelang
kelulusan yakni hanya juz 30, karena untuk kurikulum dan materi surat
Al-Baqarah diterapkan mulai tahun pelajaran ini atau masih dalam tahap uji coba.
Selain ketiga jenis tes di atas,
Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah mengadakan perlombaan hafalan Al-Qur’an. Dimana peserta didik terbaik dalam
hafalan Al-Qur’an akan diikutsertakan dalam AKSIOMA (Ajang Kompetensi Seni dan
Olahraga Madrasah). Dengan adanya perlombaan tersebut diharapkan peserta didik
lebih bersemangat dan termotivasi untuk semakin menambah hafalannya dan
sekaligus guru dapat mengevaluasi dan mengetahui prestasi peserta didiknya.
Adapun aspek-aspek yang dinilaidalam evaluasi
pembelajaran tersebut adalah: kelancaran membaca, kefasihan dan adab/akhlak.
1.2
Tabel
Rubrik Evaluasi Hasil Belajar Metode Takmili Membaca, menulis
dan Menghafal Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah
Al-Misbah
|
Materi |
Kemampuan |
Skor |
|
Kelancaran
membaca |
Mampu membaca dengan lancar |
4 |
|
Mampu membaca sebagian besar dengan lancar |
3 |
|
|
Mampu membaca sebagian kecil dengan lancar |
2 |
|
|
Tidak mampu membaca dengan lancar |
1 |
|
|
Kefasihan |
Dilaksanakan dengan fasih, tartil dan sesuai tajwid |
4 |
|
Dilaksanakan dengan fasih, kurang tartil dan kurang sesuai tajwid |
3 |
|
|
Dilaksanakan dengan kurang fasih, kurang tartil dan kurang sesuai tajwid |
2 |
|
|
Dilaksanakan dengan kurang fasih, kurang tartil dan tidak sesuai tajwid |
1 |
|
|
Adab |
Dilaksanakan dengan khusyu, sopan dan sungguh-sunnguh |
4 |
|
Dilaksanakan dengan cukup khusyu, cukup sopan dan sungguh-sungguh |
3 |
|
|
Dilaksanakan dengan cukup khusyu, namun sesekali bergurau |
2 |
|
|
Dilaksanakan dengan tidak khusyu dan bergurau |
1 |
|
|
Skor maksimal |
12 |
|
Nilai akhir = Jumlah skor yang
diperoleh x 100 Skor maksimal (12)
1) Evaluasi Proses Pembelajaran hafalan Al-Qur’an
Bentuk evaluasi proses pembelajaran yang dilakukan Madrasah Ibtidaiyah
Al-Misbah yakni dalam rapat awal tahun yang diadakan oleh yayasan Al-Misbah dengan
melibatkan semua guru dan komite madrasah untuk menilai kegiatan program Membaca, menulis dan Menghafal Al-Qur’an pada kurun waktu satu tahun.
d.
Masalah Metode Takmili Membaca,
menulis dan Menghafal Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah
Al-Misbah
Setiap penerapan suatu metode tentunya
terdapat kendala atau masalah tidak lain halnya dengan penerapan Metode Takmili
Membaca,
menulis dan Menghafal Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah
Al-Misbah. Hal ini seperti yang diungkapkan ibu Hj, HYT selaku kepala madrasah, bahwa
masalah-masalah yang dihadapi dalam penerapan metode takmili hafalan Al-Qur’an di Madrasah
Ibtidaiyah Al-Misbah di antaranya yaitu:
1)
Usia yang belum matang untuk dimasukkan ke Madrasah Ibtidaiyah;
2)
Daya tangkap masing-masing peserta didik yang berbeda-beda;
3)
Faktor kemauan dari anak yang kurang;
4)
Belum bisa baca tulis Al-Qur’an atau belum lancar membaca Al-
Qur’an, bahkam masih ada yang tahap membaca buku Iqra’;
5)
Belum mengetahui cara menghafal yang baik dan benar;
6)
Tidak bisa mengatur waktu ketika menghafal di rumah;
7)
Ketika di rumah sering bergaul dengan anak-anak yang malas terutama
malas dalam menghafal Al-Qur’an;
8)
Kekurangan guru yang
berkompetensi dalam bidang hafalan Al- Qur’an.
e.
Solusi Metode
Metode Takmili Membaca, menulis dan Menghafal Al-Qur’an di
Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak
Suparman, sejauh ini solusi yang dilakukan untuk mengatasi masalah metode takmili hafalan Al-Qur’an di Madarasah
Ibtidaiyah Al-Misbah adalah sebagai berikut:
1)
Memberlakukan aturan seleksi penerimaan peserta didik baru berdasarkan tingkat usia;
2)
Mengadakan bimbingan khusus untuk peserta didik yang memiliki daya
tangkap yang kurang;
3)
Mengadakan kerjasama dengan orang tua dalam membimbing peserta didik;
4)
Memberikan hafalan kepada anak sedikit demi sedikit, tidak secara
sekaligus;
5)
Memberikan perhatian dan motivasi kepada peserta didik untuk lebih
semangat dalam menghafal;
6)
Memberikan jadwal kegiatan peserta didik untuk membiasakan disiplin
dalam mengatur waktu;
7)
Mebentuk kelompok belajar di rumah;
8)
Mengadakan pelatihan dan pembinaan guru mengenai hafalan Al-
Qur’an;
C.
Interpretasi
Hasil Penelitian
1.
Perencanaan Metode takmili membaca,
menulis dan menghafal Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah
Kota Bandung
Berdasarkan
hasil penelitian dapat diperoleh data bawa perencanaan metode takmili membaca, menulis dan menghafal Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung meliputi:
a)
Penetapan program pembelajaran Al-Qur’an melalui rapat dengan melibatkan berbagai
pihak, yakni yayasan, komite, kepala dan guru madrasah. Dimana hasil rapat
tersebut menetapkan bahwa program hafalan Al- Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah At
Tamimi masuk ke dalam kegiatan ekstrakurikuler, sedangkan di Madrasah
Ibtidaiyah Cikananga masuk ke dalam mata pelajaran muatan lokal. Keduanya
sama-sama mengacu pada KMA nomor 184 Tahun 2019 tentang Pedoman Implementasi
Kurikulum pada Madrasah yang di dalamnya mencakup: struktur kurikulum,
pengembangan implementasi kurikulum, muatan lokal, ekstrakurikuler,
pembelajaran pada madrasah berasrama dan penilaian hasil belajar.
b)
Penetapan tujuan metode tamili pembelajaran Al-Qur’an pada madrasah ini mengacu
pada tujuan pendidikan nasional yang dikembangkan melalui visi, misi dan tujuan
madrasah masing-masing. Adapun tujuan dari metode takmili pembelajaran Al-Qur’an adalah menghasilkan lulusan Madrasah Ibtidaiyah hafal juz 30,
mengamalkan hafalan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, dan yang paling
utama adalah untuk menjaga dan memlihara hafalan Al-Qur’an.
c)
Target metode takmili membaca, menulis dan menghafal Al-Qur’an
yakni juz 30. Dalam pembagian materi atau target hafalan disesuaikan dengan
tingkat kelas. Hal ini dikarenakan tingkat kemampuan peserta didik berbeda-beda.
Selain itu faktor usia dan
kematangan cara berfikir peserta didik pun mempengaruhi terhadap hafalan
Al-Qur’an. Untuk Madrasah Ibtidaiyah At Tamimi selain juz 30 ditambah Surah
Al-Baqarah.
d)
Penentuan jadwal dan alokasi waktu tamili pembelajaran Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota
Bandung karena masuk ke dalam kegiatan ekstrakurikuler maka jadwal di luar jam
pelajaran madrasah. Yakni untuk kelas 1,2 dan 3 hari Jum’at, untuk kelas 4,5
dan 6 setiap hari Sabtu. .
Berdasarkan
analisis penulis perencanaan pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah AL-Misbah Kota
Bandung dilihat dari contoh buku target, perencanaan hafalan
Al-Qur’an sudah cukup baik dan sesuai dengan pedoman serta standar, akan tetapi
belum terdapat komponen-komponen pembelajaran yang lengkap seperti silabus dan
RPP. Padahal perangkat perencanaan ini sebenarnya adalah hal yang penting dan
harus dibuat oleh guru sebelum pembelajaran dimulai, agar dapat
terarah dengan baik. Hal ini menjadi kelemahan yang perlu dibanahi oleh semua
guru. Namun meskipun belum ditunjang dengan perangkat pembelajaran, hal ini
tidak menjadi kendala dalam melaksanakan pembelajaran.
2. Pelaksanaan Metode takmili membaca, menulis dan menghafal Al-Qur’an
di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung
Pelaksanaan
metode takmili membaca, menulis dan menghafal
Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung adalah
sebagai berikut:
a)
Kegiatan Pendahuluan
Pada kegiatan ini, guru berdo’a
bersama-sama dengan peserta didik, menanyakan kehadiran peserta didik,
memotivasi belajar untuk meghafal Al-Qur’an serta membaca Al-Asmaul husna. Hal
ini dilakukan untuk mengkondisikan pembelajaran.
b)
Kegiatan Inti
Pada kegiatan ini, mengulang telebih dahulu materi
pertemuan sebelumnya yang dilaksanakan dengan:
1). Membaca hafalan
bersama-sama dibimbing oleh guru.
Semua peserta didik mengulangi
hafalan lama lalau dilanjutkan hafalan baru secara bersama-sama dibimbing dan
disimak oleh guru.
2)
Membaca hafalan
dengan teman sebaya
Pelaksanaan pengulangan
bacaan dengan teman
sebaya bertujuan untuk lebih mempertajam ingatan para siswa yang lama
maupun yang baru itu sudah benar dan lancar atau belum. sebelum diperdengarkan
atau disetorkan dan dinilai oleh guru.
Pada
kegiatan inti yang membedakan adalah di Madrasah Ibtidaiyah ini adalah di
Madrasah Ibtidayah At Tamimi kegiatan initi dibagi dua sesi yakni sesi pertama
ada pembelajaran baca tulis Al- Qur’an, sesi kedua baru pembelajaran takmiliah membaca,
menulis dan menghafal Al-Qur’an.
3) Kegiatan Penutup
Guru mengulang lagi
terhadap ayat yang sudah dihafal. Kemudian guru menyuruh peserta didik yang
belum setoran hafalan untuk menghafal di rumah. Setelah itu guru menutup
pembelajaran dengan berdo’a bersama- sama.
Proses
pengelolaan kelas di Madrasah Ibtidaiyah At Tamimi dikarenakan hafalan
Al-Qur’an ini dilaksanakan di luar jam pelajaran (ekstrakurikuler) maka kondisi
peserta didik dan guru sudah jenuh setelah pembelajaran mata pelajaran wajib
pagi sampai siang. Untuk mengatasinya pembelajaran dilaksanakan sesuai sesantai
mungkin tapi tetap serius. Peserta didik boleh mengganti pakaian seragamnya
dengan pakaian bebas tapi sopan, hal ini untuk menciptakan kenyamanan pada
tubuh peserta didik agar tidak merasa gerah. Kemudian untuk tempat pembelajaran
tidak bergantung pada ruang kelas saja, melainkan menggunakan atau memanfaatkan lingkungan
sekitar madrasah yang dirasa memungkinkan dan nyaman ketika kegiatan
pembelajaran.
Berbeda
dengan pengelolaan kelas di Madrasah Ibtidaiyah Cikananga, dikarenakan hafalan
Al-Qur’an masuk program muatan lokal yang dilaksanakan di dalam jam pelajaran,
maka pengelolaan kelas seperti biasa, namun dikarenakan peserta didik masih
anak-anak, para guru berusaha aktif dan kreatif bagaimana menciptakan kondisi
pembelajaran yang dapat memotivasi peserta didik agar semangat mengikuti
kegiatan pembelajaran hafalan Al-Qur’an, yakni dengan mengatur tata ruang
kelas, tempat duduk peserta didik, memajang hasil karya peserta didik berupa
tulisan ayat-ayat dan sura di atas karton warna-warni ditempel di dinding agar
terlihat dan dibaca oleh peserta didik.
Menurut
Analisa penulis dalam proses pelaksanaan pembelajaran metode muraja’ah hafalan Al-Qur’an di Madrasah
Ibtidaiyah sudah sesuai dengan standar atau acuan umum yang terdiri dari tiga
tahap, yakni pendahuluan, inti dan penutup. Langkah-langkah kegiatan tersebut
adalah langkah umum yang biasa dilaksanakan oleh guru pada saat pembelajaran
hafalan Al-Qur’an, perlu ditegaskan lagi pelaksanaan pembelajaran adalah wujud
nyata dari perencanaan yang telah disusun dalam perangkat pembelajaran.
4.
Evaluasi
Metode Takmili membaca, menulis dan menghafal Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah
Kota Bandung
Evaluasi
yang dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung ada dua
jenis yaitu evaluasi hasil belajar dan evaluasi proses pembelajaran. Dimana
hasil belajar tebagi pada empat bentuk yaitu: setoran mingguan, tengah
semester, akhir semester dan evaluasi kelulusan. Evaluasi mingguan dilakukan
setiap satu minggu sekali, evaluasi tengah semester setiap tiga bulan sekali,
evaluasi akhir semester setiap enam bulan sekali dan evaluasi lulusan di akhir
kelas 6.
Evaluasi ini
dengan cara menyetorkan
hafalan Al-Qur’an hasil
muraja’ah kepada
guru, kemudian guru
memberikan penilaian di buku
pantauan hafalan Al-Qur’an peserta
didik. Stiap evaluasi dalam jangka waktu tengah semester dan akhir semesteran
biasanya ada target tertentu, namun tidak bersifat memaksa sehingga memberatkan
peserta didik.
Adapun bagi
siswa yang belum mencapai target diadakan remedial atau perbaikan. Dan jika
masih sulit mencapai target maka tidak akan mempengaruhi kenaikan kelas,
dikarenakan program ini tujuannya untuk membina dan membiasakan peserta didik
dalam menghafal Al-Qur’an. Evaluasi akhir kelulusan dilaksanakan setiap
menjelang kelulusan peserta didik. Untuk memotivasi peserta didik dalam
menghafal Al-Qur’an setiap satu tahun sekali diadakan perlombaan hafalan, dan
wisuda tahfiz di akhir kelulusan.
Aspek-aspek
yang dinilai dalam evaluasi hasil belajar peserta didik tentang muraja’ah hafalan Al-Qur’an adalah
mengacu pada standar kelulusan Madrasah Ibtidaiyah bahwa penilaian hasil
belajar meliputi: aspek kognitif, apektif dan psikomotor. Adapun kriteria
evaluasi hasil belajar hafalan Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah yaitu:
partisifasi aktif dan keseriusan dalam menghafal, fashahah, akhlak terhadap guru, dan kelancaran hafalan.
Sedangkan
evaluasi proses pembelajaran dibahas dalam rapat awal tahun berikutnya bersama
yayasan, komite, kepala dan dewan guru madrasah. Hasil evaluasi proses
pembelajaran ini digunakan sebagai acuan untuk peningkatan dan perbaikan
program selama kurun waktu satu tahun.
Berdasarkan
analisa penulis dari proses evaluasi pembelajaran metode muraja’ah hafalan Al-Qur’an sudah cukup baik. Hal tersebut
dibuktikan dari proses yang berkesinambungan (terus-menerus), adanya program
remedial, adanya buku catatan dan laporan hasil hafalan peserta didik, baik
yang ada di peserta didik maupun yang ada di guru. Dengan adanyan buku
penilaian hafalan Al-Qur’an tersebut baik guru maupun orang tua dapat mengecek
atau memantau hafalan anaknya.
5.
Masalah Metode takmili membaca, menulis dan menghafal Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah
Al-Misbah Kota Bandung
Masalah yang
dihadapi dalam metode takmili membaca,
menulis dan menghafal al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung, di
antaranya:
a.
Dari segi
peserta didik:
1) Tingkat kematangan usia peserta didik;
2) Daya tangkap masing-masing peserta didik berbeda-beda;
3) Kemauan anak yang kurang;
4)
Belum bisa
baca tukis Al-Qur’an;
5) Tidak bisa mengatur waktu ketika menghafal di rumah;
6) Sifat malas yang ada pada peserta didik.
b. Dari segi pendidik: kekurangan
tenaga pendidik yang kompeten dalam hafalan
Al-Qur’an.
c.
Lingkungan:
keluarga dan teman bermain yang kurang mendukung
6.
Solusi
Metode takmili membaca, menulis dan menghafal Al-Qur’an di Madrasah
Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung
Solusi yang
dilakukan untuk mengatasi masalah metode takmili membaca, menulis dan menghafal al-Qur’an
di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung, di
antaranya:
a.
Dari segi
peserta didik:
1) Mengadakan seleksi penerimaan
peserta didik baru berdasarkan tingkat usia;
2) Mengadakan bimbingan khusus atau
pelajaran tambahan bagi peserta didik yang masih kurang;
3) Memberikan motivasi kepada peserta
didik untuk menghafal Al- Qur’an;
4) Memberikan bimbingan baca tulis Al-Qur’an;
5) Memberikan jadwal menghafal di rumah
agar terbiasa disiplin waktu;
6) Menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan
sehingga peserta didik tidak merasa malas, jenuh atau bosan.
b.
Dari segi pendidik: Mengadakan pembinaan dan pelatihan guru tentang
metode takmili membaca,
menulis dan menghafal Al-Qur’an atau juga bisa mengadakan
Kerjasama dengan guru mengaji.
c.
Lingkungan: mengadakan hubungan kerjasama guru dan orang tua dapat
melalui buku penghubunguntuk senantiasa memperhatikan hafalan anaknya.
D. Pembahasan Hasil Penelitian
1.
Perencanaan
Metode takmili membaca, menulis dan menghafal Al-Qur’an di
Madrasah Ibtidaiyah Kabupaten Garut
Berdasarkan hasil penelitian, penulis
menemukan bahwa perencanaan atau rancangan kegiatan metode takmili membaca, menulis dan
menghafal Al-Qur’an oleh Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung tersebut
diawali dengan menetapkan tujuan yang akan dicapai. Hal ini sesuai dengan
Fattah (2009: 49) bahwa:
Perencanaan adalah proses penetuan tujuan atau sasaran yang hendak
dicapai dan merupakan jalan dan sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan
seefisien dan seefektif mungkin. Setiap perencanaan terdapat tiga kegiatan
yaitu: (1) Perumusan tujuan yang ingin dicapai, (2) Pemilihan program untuk
mencapai tujuan itu dan (3) Identifikasi dan pengerahan sumber yang jumlahnya
terbatas.
Pada konteks perencanaan pembelajaran
metode takmili membaca, menulis dan menghafal
Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung, setelah menetapkan tujuan
dilanjutkan dengan penetapan target atau materi hafalan, penentuan jadwal dan
alokasi waktu. Hal ini sesuai dengan Majid (2005: 17) bahwa:
Perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan materi pelajaran,
pemggunaan media pembelajaran, penggunaaan pendekatan metode pembelajaran, dan
penilaian dalam suatu alokasi waktu yang dilaksanakan pada masa tertentu untuk
mencapai tujuan yang ditentukan. Perencanaan menjadi pedoman pelaksanaan yang
harus dipatuhi guru saat melaksanakan pembelajaran di dalam kelas bersama siswa.
2.
Pelaksanaan
Metode takmili pembelajaran membaca, menulis dan menghafal Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa
pelaksanaan pembelajaran metode takmili pembelajaran hafalan Al-Qur’an di Madrasah
Ibtidaiyah Al-Misbah dilakukan dalam tiga tahap, yaitu: 1) tahap awal/pendahuluan, 2) tahap
inti, dan 3) tahap akhir pembelajaran. Pada tahap awal pembelajaran berdo’a
bersama, membaca Asmaul Husna, mengulang Kembali hafalan yang lalu (apersepsi). Sedangkan tahap inti guru
melaksanakan pembelajaran dengan mengunakan metode takmili.
Peserta didik mengulang hafalan lama disimak oleh
temannya secara berpasangan, mengulang hafalan baru dibimbing dan disimak oleh
guru, kemudian bagi peserta didik yang sudah bisa dan siap menyetorkan hafalan
kepada guru dan dicatat dalam buku hafalan Al-Qur’an peserta didik. Tahap
terakhir guru memberikan tugas hafalan di rumah dan menutup pembelajaran dengan do’a.
Ketiga tahapan dalam pelaksanaan
tersebut merupakan realisasi dari perencanaan. Hal itu sesuai dengan Wiyani
(2012: 560 bahwa: “merealisasikan rencana menjadi Tindakan nyata dalam rangka
mencapai tujuan yang efektif dan efisien sehingga akan memiliki nilai guna yang
benar-benar bermanfaat.”
Pelaksanaan pembelajaran hafalan
Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung, guru berperan sebagai
pembimbing yang bertugas mengarahkan, memberi motivasi kepada peserta didik untuk
giat menghafal dalam upaya mencapai target hafalannya. Hal ini sejalan dengan
George R. Terry dalam Sukarna (2011: 82) mengemukakan bahwa:
Actuating merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa
sehingga mereka berkeinginan dan berusaha mencapai sasaran perusahaan dan
sasaran anggota perusahaan tersebut oleh para anggota itu juga ingin mencapai
sasaran-sasaran tersebut.
Pelaksanaan terdiri dari sumber daya
manusia sebagai penggerak dan dorongan atau motivasi untuk mencapai tujuan. Hal
ini sejalan dengan Terry (2009: 9):
Pelaksanaan terdiri dari staffing
dan motivating. Pada tahap staffing bertujuan untuk menentukan
keperluan-keperluan sumber daya manusia, pengerahan, penyarinagn, Latihan dan
pengembangan tenaga kerja. Sedangkan pada tahap motivating kegiatan ini mengarahkan atau menyalurkan perilaku
manusia kea rah tujuan- tujuan.
Dikarenakan di Madrasah ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung belum pernah memiliki guru khusus hafalan Al-Quran, maka pelaksanaan
pembelajaran hafalan Al-Qur’an dipercayakan kepada guru kelas masing-masing.
Guru yang ditunjuk berusaha untuk menjalankan tugasnya dengan baik. Hal ini
sesuai dengan Nawawi (2000: 95) bahwa:
Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pelaksanaan (actuating) ini adalah bahwa seorang
karyawan akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu jika: (1) merasa yakin akan
mampu mengerjakan, (2) yakin bahwa pekerjaan tersebut memberikan manfaat bagi
dirinya, (3) tidak sedang dibebani oleh problem pribadi atau tugas lain yang
lebih penting atau mendesak, (4) tugas tersebut merupakan kepercayaan bagi yang
bersangkutan dan (5) hubungan antar teman dalam organisasi tersebut harmonis.
3.
Evaluasi
Metode takmili membaca, menulis dan menghafal
Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung
Evaluasi metode takmili membaca, menulis dan menghafal
Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung terdiri dari dua jenis
evaluasi yakni evaluasi hasil belajar dan evaluasi proses pembelajaran. Hal ini
bertujuan untuk dapat mengetahui
seberapa besar tingkat prestasi keberhasilan peserta didik dalam menguasai materi
pelajaran yang telah dipelajari diperlukan adanya suatu penilaian (evaluasi).
Hal ini sejalan dengan Arikunto dalam Mulyadi (2015: 1) bahwa:
Evaluasi adalah kegiatan mencari sesuatu yang berhaga tentang sesuatu;
dalam mencari sesuatu tersebut, juga termasuk mencari informasi yang bermanfaat
dalam menilai keberadaan suatu program, produksi, prosedur, serta alternatif
strategi yang diajukan untuk mencapai tujuan yang sudah di tentukan.
Adapun bentuk penilaian (evaluasi)
pembelajaran metode takmili membaca, menulis dan menghafal Al-Qur’an yang dilakukan di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung yaitu
sistem setoran hafalan harian, setoran hafalan tengah semester, setoran hafalan
Semester dan ujian Akhir Tahfidz (UAT). Sedangkan untuk anak yang belum
mengalami ketuntasan, maka dilakukan remedial sesuai dengan ketentuan. Dengan
kriteria penilaian, yaitu: aspek kelancaran hafalan, tajwid, fashahah, ahlak (sikap).
Penilaian hasil belajar metode takmili membaca, menulis dan menghafal Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung
bertujuan untuk memberikan penilaian atas hasil pembelajaran metode
takmili peserta didik. Penilaian
ini dalam bentuk tes lisan dan menggunakan rubrik sebagai instrumen penilaian.
Hal ini sejalan dengan pendapat Masrukhin (2008: 1) menyatakan bahwa:
Evaluasi merupakan suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan
nilai daripada sesuatu. Sedangkan menurut istilah evaluasi adalah kegiatan yang
terencana untuk mengetahui keadaan sesuatu obyek dengan menggunakan instrumen
dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan.
Penilaian (evaluasi) dalam pembelajaran
hafalan Al-Qur’an sangatlah penting dilakukan dengan baik. Karena evaluasi
merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh seorang tenaga
pendidik dalam kegiatan pembelajaran. Dengan penilaian, guru akan mengetahui
perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungan sosial,
sikap dan kepribadian peserta didik atau peserta didik. Aktifitas penilaian ini
dilakukan dalam rangka untuk mengukur tingkat ketercapaian kompetensi peserta
didik dalam kurun waktu tertentu. Selain itu juga dapat dijadikan sebagai bahan
penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, hingga dapat diketahui
perbaikan-perbaikan yang barang kali perlu dilakukan.
4.
Masalah
Metode takmili membaca, menulis dan menghafal
Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung
Permasalahan yang dihadapi dalam metode takmili membaca, menulis dan meghafal
Al-Qur’an
di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah
Kota
Bandung di antaranya:
a.
Tingkat kematangan usia peserta didik Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah yang belum cukup. Hal ini
dikarenakan pada tahun-tahun sebelumnya penerimaan peserta didik baru di
Madrasah Ibtidaiyah tersebut
tidak menyeleksi berdasarkan usia, terkadang asal memiliki ijazah Tk/RA atau PAUD
diterima saja.
b.
Daya tangkap masing-masing peserta didik yang berbeda-beda. Hal ini
memang tidak dapat dipungkiri, dan umur kadang tidak melulu menjadi penentu.
Ada siswa kelas bawah yang memang sudah lancar membaca dan bisa mengikuti
Al-Qur’an dengan baik, tapi ada peserta didik kelas atas yang masih belum lancar.
c.
Faktor kemauan dari anak yang kurang. Kemauan anak yang kurang
mungkin saja karena pengaruh keluarga yang kurang mendukung.
d.
Belum bisa baca tulis Al-Qur’an atau kurang lancar dalam membaca
Al-Qur’an, bahkan ada yang masih tahap membaca buku Iqro’. Belum mengetahui cara menghafal yang baik dan benar. Adapun
kunci kesuksesan agar seseorang bisa menghafal dengan benar dan baik adalah
konsentrasi tidak terpengaruh dengan kondisi lingkungan sekitar dan membagi
surat yang panjang menjadi bagian yang kecil.
e.
Tidak bisa mengatur waktu ketika menghafal dirumah. Sebenarnya
orang tualah yang yang tau persis akan kondisi anak kapan waktu- waktu bagi
anak tepat untuk menghafal.
f.
Sifat malas yang ada pada siswa. Guru yang memang berperan dalam
menjaga mood anak-anak usia dini.
g.
Ketika dirumah sering bergaul dengan anak-anak yang malas terutama
malas dalam menghafal Al-Qur’an.
h.
Kekurangan tenaga pendidik merupakan masalah yang dapat menghambat
pembelajaran, karena pendidik merupakan kunci
keberhasilan dalam pembelajaran.
Setiap penerapan metode pembelajaran
tidak akan terlepas dari yang namanya masalah. Namun dalam hal ini madrasah
sebagai pengelola dalam pendidikan harus bisa menghadapi dan menyelesaikan
masalah tersebut. Masalah yang muncul dalam metode takmili
di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung dari
segi peserta didik sendiri, pendidik sebagai pembimbing dan lingkungan. Hal ini
sejalan dengan pendapat Irfan (2016: 8) bahwa:
Proses menghafal Al-Qur’an tidak semudah yang dibayangkan. Ada beberapa
problematika dalam menghafal Al-Qur’an. Problematika tersebut bisa berasal dari
diri penghafal (internal) dan juga bisa berasal dari luar si penghafal (eksternal).
5.
Solusi Metode
takmili membaca, menulis dan menghafal Al-Qur’an di
Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah
Kota Bandung
Solusi yang bisa dilaksanakan untuk
mengatasi masalah dalam metode takmili membaca, menulis dan
menghafal Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Al-Misbah Kota Bandung
a.
Pihak madrasah untuk tahun depan bisa lebih menyeleksi peserta
didik dengan berdasarakan tingkat usia. Karena untuk menanamkan pengetahuan
diperlukan keadaan fisik maupun psikologis yang sudah siap.
b.
Menambah tenaga pendidik sehingga para guru bisa fokus membimbing
beberapa anak yang butuh bimbingan khusus. Sehingga anak dengan daya tangkap
yang lemah paling tidak bisa mengejar ketinggalan. Karena kemampuan guru pun
terbatas sehingga pembelajaran tidak akan kondusif.
c.
Adanya kerjasama guru dengan orang tua peserta didik di rumah.
Setiap orang tua bisa memotivasi dan mengarahkan anak-anak mereka bahwa
menghafal Al-Qur’an adalah suatu hal yang baik dan sangat dianjurkan.
d.
Guru harus selalu membimbing bacaan para peserta didik sebelum
menghafal dengan memperhatikan tajwid dan makhroj hurufnya. Selain itu siswa
juga harus sering membaca Al-Qur’an guna memperlancar hafalannya.
e.
Kunci kesuksesan agar seseorang bisa menghafal dengan benar
dan baik adalah konsentrasi tidak
terpengaruh dengan kondisi lingkungan sekitar. Serta supaya tidak merasa berat
membagi surat yang panjang menjadi bagian yang kecil. Menghafal sedikit demi
sedikit dengan benar, daripada menghafal banyak ayat terus banyak yang terlupa.
f.
Dikarenakan orang tualah yang yang tau persis akan kondisi anak
kapan waktu-waktu bagi anak tepat untuk menghafal atau muraja’ah. Oleh karena itu teladan yang orang tua berikan sangat
berpengaruh bagi keberhasilan anak.
g.
Guru yang memang berperan dalam menjaga mood anak-anak. Guru harus pintar-pintar menarik perhatian peserta
didik dan memotivasi peserta didik agar mau mengikuti hafalan Al-Qur’an
h.
Guru dan orang tua mengarahkan peserta didik untuk bergabung dengan
kelompok para penghafal Al-Qur’an tujuannya adalah supaya saling membantu dan
saling memberi motivasi dalam hal tahfizhul Al-Qur’an.
i.
Menambah tenaga pendidik dan pembimbing sehingga para guru diharapkan
bisa mengajar secara professional dan sesuai dengan bidangnya. masing-masing.
Para guru juga bisa lebih berkonsentrasi pada mata pelajaran yang diampunya dan
dapat menyampaikan materi secara efektif. Selain itu peserta didik juga bisa
lebih terkontrol dan bagi siswa-siswa yang masih kurang, bisa mengejar
ketinggalan. Akan lebih baik jika masing-masing guru ini menjadi guru
pembimbing bagi beberapa anak saja. Guru ini harus tahu perkembangan anak-anak
yang berada dalam bimbingannya. Kelebihannya, bagi anak yang sudah baik
hafalannya akan lebih terkontrol, dan bagi peserta didik yang masih tertinggal
bisa mengejar dibantu oleh guru pembimbing dan
teman-teman yang ada dikelompoknya. Bisa
juga mengadakan derjasama dengan guru mengaji di tempat mengaji peserta didik.
j.
Hendaknya
orang tua juga berperan dalam membantu anak-anak dalam menjaga hafalan mereka.
Dari pihak madrasah juga sudah memberikan buku penghubung yang berguna sebagai
jembatan antara siswa dan orang tua mengetahui sejauh mana perkembangan anak
mereka. Orang tua harus memanfatkan itu guna kebaikan anak mereka. Pihak
madrasah terutama guru hafalan Al-Qur’an bisa bertemu dengan masing-masing
orang tua secara berkala untuk menyampaikan perkembangan dan mengajak kerja
sama para orang tua agar memotivasi anak-anak mereka selama dirumah. Karena
kerja sama yang baik antar guru, peserta didik dan orang tua sangat diperlukan
demi tercipta pembelajaran yang efektif.
Solusi yang ditempuh oleh kedua
Madrasaah Ibtidaiyah tersebut untuk mengatasi masalah yang dihadapi dalam
metode takmili membaca, menulis dan menghafal hafalan
Al-Qur’an ini tidak berdasarkan pendapat pribadi kepala madrasah, melainkan
melalui hasil kesepakatan dan disesuaikan dengan pedoman dan aturan yang
berlaku. Hal ini sejalan dengan Munif dalam Irfan (2018: 20) bahwa:
solusi
merupakan jalan atau cara yang digunakan untuk menyelesaikan atau memecahkan
masalah tanpa ada tekanan. Maksudnya adanya tekanan di sini adalah adanya
objektivitas dalam menentukan pemecahan masalah dimana orang yang mencari
solusi tidak memaksakan pendapat pribadinya dan berpedoman pada kaidah dan
aturan yang ada.
Open all
Close all