Kehawatiran saya takut menjadi sebuah kenyataan dimana sudan sebagai negara yang sedikit banyaknya berpenduduk muslim dan sudah menerapkan aturan syariah menjadi bulan-bulanan media massa internasional yang keberpihakannya terhadap islam sangat kurang bagaimana tidak media informasi mereka (non muslim)yang mengendalikan. Perang propaganda jelas lebih banyak berpengaruh ketimbang perang pisik. kita harus belajar dari pengalaman. bagaimana seorang presiden Irak (sadam husein) ia di buru oleh militer AS dengan dalih senjata pemusnah massal yang sampai saat sekarang belum terbukti.
Berikutnya giliran tetangganya Iran yang di tuding membuat senjata nuklir ini adalah alat rekayasa untuk membumihanguskan satu persatu negara islam. lebih parah lagi ternyata banyak tulisan-tulisan yang mengungkap sisi hukum syariah dengan pandangan yang negatif yang berdalih dan beralasan HAM.
Ham notabene bukan Hak Asasi Manusia melainkan Hancurkan Anak-anak Muslim, ketika ketidakadilan berpihak pada muslim HAM seolah-olah tidak tahu. tetapi sebaliknya ketika terjadi sedikit kesalahan terhadap orang muslim mereka dengan serta merta langsung mengaitkan dengan agama yang di anutnya. sampai kepada almamater yang pernah di gelutinya sebagai ladang mencari ilmu, lebih kejam lagi dituduh sebagai sarang pencetakan teroris.
Sebuah pengalaman yang pahit pernah terjadi di negeri kita, dimana semua santri se Indonesia di mintai sidik jari satu persatu dengan alasan antisipasi terorisme. Walaupun hal ini sebatas rencana tentunya mengundang reaksi keras dari kalangan pesantren yang jelas-jelas tersinggung dan merasa di sudutkan hanya gara-gara si peledak bom pernah nyantri di sebuah Pondok Pesantren.
Timbul sebuah pertanyaan mengapa jika para pejabat yang korup tidak pernah di usut dimana mereka pernah belajar dan dimana mereka menggeluti ilmu, sehingga mereka ketika menjadi pejabat pandai korupsi dan memanipulasi rakyat. sungguh ketidak adilan sudah sangat memprihatinkan di negeri ini.
Open all
Close all

